Posted in Thoughts and Sense, Travelling

Halo Gunung Sumbing

The earth has music for those who listen.” ~George Santayana

 d

Haloo..

Ini post ketiga saya tentang family trip The Liano’s 8 days 4 cities.. Jadi ceritanya, lebaran kemarin saya dan keluarga berencana pergi ke Jogja tapi mau mampir-mampir dulu ke beberapa kota.. Nah as I told you before, I had passed 3 cities.. You can read my previous stories in my previous post or just simply click here (part 1) and here (part 2) .. Thank you ♥

e

Jadi sekarang adalah hari ke empat dan saya masih menginap di Temanggung karena memang sudah direncanakan ingin merasakan gunung Sumbing yang cantik itu.. Aaah, semalem sempet galau apakah “pendakian” ini harus saya jalani atau enggak.. Karena jujur, agak khawatir karena kita rencana naik menggunakan motor trail dengan lama perjalanan selama 3 jam.. Takut merosot dari motor, takut gak kuat punggungnya, takut jatoh ke jurang.. hmmmm -_- Ayah juga sempet ngelarang takut nanti pinggang kumat, tapi ibu ngomporin supaya ikut aja.. “Try it once, maybe there’s no other chances for you next time..” Oke lah, kalo udah diiizin ibu saya mantap berangkat 🙂

SP_HappyGoLucky_Stitching

Keesokan hari, saya semangat mandi jam setengah 6 pagi.. Keluar hotel, waaah ada kabut.. Brrr dingin banget ternyata di Temanggung.. Enaknya pagi-pagi masih ada kabut gini, pasti kalo di Jakarta seperti ini berangkat kantor gak perlu pake keringetan dulu ya.. hehe..

SP_HappyGoLucky_Stitching

Jam 9 pagi tim teko kecil akhirnya berangkat menuju gunung Sumbing.. Tim teko kecil terdiri dari 9 orang termasuk saya dan kakak saya, motor nya 6 buah.. Saya masuk daftar pembonceng, kelak dalam perjalanan saya dilempar-lempar dari motor satu ke motor lain karena ada beberapa motor yang bermasalah.. poor me.. hihi.. Bismillah, Ya Allah lancarkan perjalanan pertama saya “mendaki” gunung ciptaan-Mu ini ya :”)

16

7

Nah, dimulai lah perjalanan ini dengan menyusuri kebun mbako yang super indah.. Jalannya batu-batu, motor melaju kencang, badan terguncang-guncang, sakit pinggang.. Huhu, jadi inget larangan ayah kemarin.. Sempet kepikiran apa pulang aja ya mumpung belum jauh.. Tapi liat pemandangannya ini, saya rela sakit-sakit.. Nderek langkung, mbah.. 

SP_HappyGoLucky_Stitching

25  menit kemudian, horeeee jalanannya sudah jalanan tanah jadi gak tersiksa lagi.. Tapi ternyata karena agak licin para pembonceng harus turun dari motor dan jalan kaki sebentar sampai keluar kebun mbako.. Walaah disini nih kekuatan pernapasan diuji.. Berhubung gak pernah olah raga, jadi ya cuma nanjak dikit aja udah ngos-ngosan.. hihi

1

Disaat saya ngos-ngosan,  tim motor di belakang heboh memapah motornya naik dan gak pake ngos-ngosan (luar biasa).. Nah disini kita istirahat untuk pertama kalinya.. Di ketinggian yang belum ada apa-apanya ini, pemandangannya sudah membuat saya megap-megap.. Subhanallah banget.. Kebun mbako nya meliuk-liuk seperti bukit Teletubbies.. Indah banget pake nganga.. :p

2

*please mind my expression, hihi.. Ini sehabis ngos-ngosan nanjak, foto dulu dengan background Gunung Sindoro.. Fyi, Gunung Sindoro punya ketinggian sekitar 3100 mdpl sementara Gunung Sumbing sekitar 3300 mdpl.. Pada nantinya, saya dan tim akan sampai pada ketinggian 3100 mdpl di Gunung Sumbing, jadi dengan kata lain kami akan sejajar dengan puncak Gunung Sindoro.. What a day..♥

1

Setelah 10 menit istirahat dan puas foto-foto pemandangan disini, kami melanjutkan perjalanan kami.. Nah sekarang perjalanannya menghadapi tantangan lain, karena sudah mulai masuk hutan dengan jalanan tanah yang kecil.. Tanjakan terjal dan tikungan lebay bikin saya bingung pegangan kemana.. Takut merosot dari motor, sumpah.. Hehe..

8

Mas Adit juga ngos-ngosan lhoo..

2

Semakin tinggi “pendakian” saya, semakin terlihat perbedaan vegetasi alamnya (cmiiw) di Gunung Sumbing ini.. Hutan lebat penuh dengan pohon-pohon yang tinggi menjulang membuat matahari tidak banyak masuk ke area ini.. Hawanya jadi dingin karena penuh kabut..

Kemudian pohon-pohon yang tinggi tersebut berganti dengan hutan bambu yang berisik karena tersapu angin.. Berisik tapi cantik.. Semakin atas semakin sepi, karena bambu-bambu sudah tidak berbisik..

Lalu suasananya menjadi “sedih” karena banyak pohon-pohon kering meranggas yang cenderung mati, mungkin mereka kedinginan.. Tapi disini saya enggak kedinginan karena matahari semakin hangat menyelimuti saya.. hihi..

Lalu saya tersadar kalau saya sudah ada di sebuah negeri di atas awan..

6

x Kau mainkan untukku.. Sebuah lagu tentang negeri di awan.. Dimana kedamaian menjadi istananya.. Dan kini tengah kaubawa.. Aku menuju kesana ~Negeri di Awan, Katon Bagaskara x

Di ketinggian 2800 mdpl ini, Gunung Sumbing sudah didominasi dengan lereng padang rumput super luas.. Di sini kami berisitirahat untuk kesekian kalinya.. Turun dari motor, saya jalan sempoyongan lalu tiba-tiba kepala kliyengan.. Kayaknya saya kurang oksigen jadi saya menepi dulu duduk, minum dan tetep hunting foto asal-asalan..

Takjub, meskipun asal-asalan fotonya tetep bagus.. hihi Disini saya bisa melihat puncak Gunung Slamet dari kejauhan, tapi sayangnya tidak bisa melihat Gunung Sindoro karena beliau masih malu-malu menampakkan dirinya.. Badan dan puncaknya tertutup awan tebal, padahal jaraknya tidak sejauh Gunung Slamet.. Pasti kalau tidak tertutup awan akan semakin luar biasa indahnya.. 🙂

3

(Puncak Gunung Slamet nun jauh disana, can you spot it?? )

3

10

Rencananya di ketinggian 2900 mdpl, kita akan istirahat besar.. Makan dan tidur-tiduran.. Saya agaknya udah kelaperan dan agak budeg karena kelaperan.. Hehe.. Sesampainya di ketinggian ini, motor di parkir berjajaran dan kami pun disambut oleh sebuah pohon unik.. Pohon ini adalah satu-satunya pohon yang kokoh berdiri di ketinggian 2900 mdpl.. Pohon bulu, saya sebut pohon itu.. Banyak bulu-bulu putih, sempet kepikiran apa itu salju ya (bodoh banget ini saya ngaku deh , hehe)..

11

Kulo nuwon Pohon Bulu, saya numpang istirahat ya.. Saya janji gak akan ninggalin sampah ataupun meludah sekalipun..

Dengan nggragas nya saya langsung ngubek-ngubek perbekalan.. Alhamdulillah, ibu bawain buah pear dan itu nikmat banget di makannya.. Selain banyak airnya, tekstur crispy dari buah seperti pear dan apel bisa bikin budeg dan mual hilang .. Dua buah pear, seplastik roti tawar isi selai strawberry, satu cup mie instan gak bikin perut kenyang.. Mungkin karena hawa yang dingin dan nyali yang terkuras habis selepas off road tadi hehe..

5

(Sita dan Mbak Dyas ngunyah apa aja yang bisa dikunyah, haha)

Kata Mas Adit, semuanya jadi nikmat di makan di ketinggian ini.. Mie instan seharga 3 ribu perak jadi bernilai 1 juta karena super nikmat apalagi sambil disuguhi pemandangan yang priceless.. ♥

SP_HappyGoLucky_Stitching

Semakin siang, kabut nya semakin tebal.. Sedikit kecewa karena Gunung Sindoro belum mau menampakkan wajahnya pada kami di ketinggian ini.. Saya sabar menunggu sembari berdoa dalam hati, semoga saya “dijodohkan” dengan Gunung Sindoro, amiin.. Untuk membunuh kekecewaan, saya menikmati duduk di tebing dengan kaki yang menjuntai-juntai ke bawah (sok berani banget, padahal perut langsung berasa lucu alias senewen takut jatoh hihi)

12

4

Nah ini ni pose sok beraninya, kaki udah kayak ager-ager tapi penasaran ama pemandangan di bawah situ :p

5

13

Setelah istirahat saya melanjutkan perjalanan lagi, kurang lebih ke tempat yang 200 meter lebih tinggi, tepatnya di ketinggian 3100 mdpl.. Jalan setapak sudah tidak terlihat, motor sudah tidak bisa lewat, tanah-tanah sudah diselimuti oleh rumput-rumput tinggi.. Lereng menjadi semakin miring dengan kemiringan yang cukup terjal.. Saya lumayan capek dan gemeter disini karena tanahnya agak lembut, bikin susah melangkah karena takut njeblos.. Jalan 10 meter aja udah kayak jalan 10 kilo.. Hadeh..

7

Sebenarnya, kita masih bisa menuju puncak Gunung Sumbing.. Tapi harus menempuh ketinggian 200 meter lagi dengan berjalan kaki.. Namun jujur saja saya udah gak sanggup nanjak karena medannya yang tricky, ditambah perbekalan semakin menipis takut nanti kenapa-kenapa.. Jadi dicukupkan saja sampai ketinggian 3100 mdpl.. 🙂

6

Nah disini, saya tiba-tiba pengen nangis karena merasa sangat terharu.. Mata saya basah dan tertiup angin membuatnya semakin dingin.. Sebenernya enggak tau itu terharu atau mengantug ya.. Yang pasti, saya merasa kecil sekali di atas sana, merasa semakin dekat dengan Allah juga gak tau kenapa pokoknya sentimentil banget deh..Kata ibu mungkin karena disana dekat dengan langit.. hehehe Suasanya pun mendukung saya untuk sentimentil sih.. Hampir sama sekali tidak ada suara.. Cuma ada suara syuh syuh angin.. Tenang dan syahdu sampai ketika saya melihat 2 burung elang terbang bebas beriringan.. Walaupun gak tau pasti apa itu elang atau bukan, tapi yang pasti cukup besar dan sayapnya kayak yang elang gitu deh.. hihi

SP_HappyGoLucky_Stitching

Subhanallah dan Alhamdulillah rencana 3100 mdpl terwujudkan sudah.. Dan semuanya semakin lengkap, karena pada akhirnya puncak Gunung Sindoro menyapa saya dan kakak saya walaupun hanya selama 1 menit.. Saya juga diberi kesempatan untuk mendapatkan fotonya, walaupun cuma seiprit tapi saya bersyukur.. ♥

14

15

Setelah puas dan mulai mengantug, semua tim akhirnya sepakat untuk pulang.. Yak, ternyata pulangnya gak kalah jebret dengan waktu berangkat.. Berasa olahraga downhill karena motor cuma ngopling doang jadi rasanya syur syur gitu.. Terima kasih Mas Sukeng dan teman-teman di desa Glapansari atas bantuannya selama di Gunung Sumbing.. Tentu ini menjadi unforgetable experiences buat kita semua ya, Mbak Dyas dan Mas Adit ♥

Wajah hitam, kulit mengelupas, perih karena lupa pake sunblock, hahaha..

4

Yuk, ke Gunung Sumbing !!

Love,

D4779E20035572AC7E2816A17121536E2

Advertisements

Author:

I do recycling, sewing, crafting – those are my passions that being destructed by office hours.. I’m ordinary but most time being distinguish and minority.. I don’t mind for being and looking ugly.. Because everybody’s ugly, they just pretend not to look ugly.. I watch people, their shoes and bags, sometimes I judge inwardly.. I’m little bit straight forward and I am not sorry for being straight forward.. I hear a lot.. I write words, my handwriting is adored by some friends.. I love taking pictures.. I prefer shoot than being shot, anyway.. Travelling sometimes, “mountains better than beaches” lately.. Be very fond of with smell of genuine leather, some vintage, rustic and traditional things..

One thought on “Halo Gunung Sumbing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s